Ahlan

Senin, 07 November 2011

Biografi: Aisyah Ummul Mu’minin


      Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah SAW. Namanya diambil dari kata Al A’isy yang artinya hidup. Rasul pun kadang memanggilnya dengan panggilan “Wahai A’isy”. Adapun panggilannya Ummu Abdullah karena menggunakan nama kemenakannya Abdullah bin zubair.

     Aisyah adalah anak dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ummu Ruman yang berasal dari bani Farras. Aisyah dilahirkan 7 tahun sebelum hijrah. Beliau menikah dengan Rasulullah saat 6 tahun dan menjadi pengantin pada waktu 9 tahun, pada bulan syawwal serelah perang Badar tahun ke 2 hijriah. Meski  sidah menikah, Aisyah kecil belum de serumahkan dengan Rasul, dan ketika sudah serumahpun Rasull masih mengijinkan Aisyah untuk bermain seperti anak-anak pada umumnya. 

    Allah telah menganugerahkan Aisyah berbagai keistimewaan, baik ilmu maupun kecerdasan berfikir juga kesopanan dan wibawa. Sehingga ia menjadi ‘guru’ bagi sahabat-sahabat Rasulullah, terutama bagi wanitanya. Beliau menjadi tempat bertanya para sahabat dan sebagai gudang hadits Rasulullah yang dimana para sahabat lain tidak mendapatkannya terutama hadits-hadits tentang wanita, pernikahan dan talak.  

   Ketangguhan Aisyah sangat luar biasa, yaitu ketika perang berlangsung, Aisyah dan wanita lainnya menyiapkan makanan dan minuman bagi paja pejuang  serta merawat pejuang yang terluka dan mengangkut pejuang yang mati syahid. Bahkan dalam perang Uhud beliau bersama sahabat wanita lain maju ke medan perang dan memberikan air minum pada setiap pejuang yang cedera tanpa gentar. Mereka (Aisyah dan wanita lainnya) tidak aktif di medan perang kecuali dalam keadaan darurat dimana para pejuang pria kelelahan.
  
         Pengaruh Aisyah sangatlah besar bagi Rasulullah. Hingga saat akhir hayatnya beliau meminta izin pada istri-istrinya agar dirawat di rumah Aisyah dan semuanya menyetujuinya karena mengerti keinginan Rasulullah. Aisyah pun pernah berkata:
“Sesungguhnya diantara nikmat-nikmat Allah atas diriku bahwasanya Rasulullah SAW meninggal dalam dekapanku”.

     Setelah Rasulullah meninggal, beliau tetap tegar dan menjadi guru bagi para sahabat. Namun pada masa khalifah Abu bakar beliau belum menonjol. Tapi mulai masa khalifah Usman beliau mulai dilirik banyak sahabat sebagai tempat bertanya dan meminta nasihat terutama dalam urusan yang berhubungan dengan pribadi seseorang. Terutama ketika keharusan mandi janabat yang waktu itu masih diperselisihkan, lalu beliau berkata sebuah hadits yang intinya ketika sudah berjima maka diwajibkan mandi janabat.

      Ketika memasuki masa khalifah Usman, ilmunya semakin berlambah luas seiring dengan bertambahnya wilayah kekuasaan Islam. Maka banyak orang datang dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang berbagai hal. Seperti masa khalifah yang lalu, kehidupan istri-istri nabi terjamin. Sehingga ketika mereka akan berhaji mereka disediakan pengawalan yang sangat ketat. Aisyah sangat menghormati setiap sahabat nabi yang menjadi khalifah termasuk Utsman. Sehingga ketika ada orang yang mencemooh nya Aisyah langsung menyindirnya dengan “semoga Allah mengutuk orang yang mencela Usman. Karena aku pernah melihat Rasulullah SAW menyandarkan kakinya pada beliau ketika menerima wahyu”. Namun pada masa ini sangat banyak fitnah yang menuduh pada Usman dengan berbagai adu domba hingga beliau dibunuh oleh seorang kafir dan kematiannya itu sangat disayangkan oleh banyak orang sehingga menimbulkan banyak perselisihan.

   Ketika masa Ali, awalnya berjalan dengan baik namun karena Aisyah yang sedang dikuasai olek kekesalan ditambah adu domba oleh Mu’awiyah sehingga Aisyah melakukan kesalahan yang sangat buruk. Ketika terjadi perang jamal, Aisyah waktu itu berada di pihak Mu’awiyah. Sehingga ketika beliau melihat kaum muslimin saling berperang beliau maju sambil mengacungkan Al-Qur’an dengan maksud agar kembali kepada Al-qur’an, namun hal itu membuatnya diburu oleh kaum kafir yang saat itu ada dalam peperangan. Beliau hampir tewas namun beruntung dengan siasat Ali, Aisyah bisa diselamatkan. Hingga akhirnya Aisyah menjadi sangat menyesal dan meminta maaf pada Ali yang selama ini telah menjadi salah dimata Aisyah yang terpengaruh kekesalan terbunuhnya Usman dan provokator Mu’awiyyah. Dan sejak saat itu Aisyah menjadi menyesali perang Jamal tersebut dan  sangat hati-hati terhadap Mu’awiyyah.

   Aisyah meninggal diusia 66 pada 17 ramadhan tahun 58 H karena sakit. Beliau dimakamkan di Al-Baqi sesuai dengan keinginannya  seperti para istri nabi lainnya.

1 komentar: